Cara menyebut orang: Harus bangga dengan bahasa kita

Karena yang namanya layanan itu wajar kalau ada masalah, begitu jugalah dengan indihome dari Telkom. Setiap ada masalah jangan ragu-ragu hubungi Telkom. Bisa melalui berbagai platform. Telpon, hp, twitter, facebook dan responnya mantap.

Yang menarik itu cara customer service nya menyebut lawan bicara. Saya biasa komplain lewat twitter atau Facebook. Gaya bahasa standar saya biasanya, ‘mba, tolong koneksinya putus-putus’.

Tak lama kemudaian, yang disebarang sana menjawab, ‘baik kakak, saya akan periksa dulu, kakak’. Ada rasa geli setiap CS dari Telkom itu jawab. Selain lucu juga fresh. Rasanya jadi lebih muda. Saya yakin CS itu paling usianya 20 an. Jadi ya, dalam percakapan itu saya menjelma kembali menjadi 20 an. Mungkin memang adek CS itu melihat foto profile saya di twitter dan wajah saya itu memang tampak 20 an (boleh setel mode geer begini).

Beda lagi cara sebuah perusahaan penyedia hosting. Perusahaan yang sering gak karuan bermasalah ini (tak perlu disebut namanya) selalu memakai kata ganti ‘anda’ saat menanggapi komplain. ‘Silahakn anda periksa kembali’, ‘Silahkan Anda baca petunjuk ini’.

Dan entah mengapa, setiap membaca tanggapan dengan ber anda anda itu, kesan saya CS itu sok tua, atau mungkin sotoy sok pinter.

Bahasa kita asalnya memang tidak mempunyai kata ganti orang kedua yang netral seperti ‘you’ dalam bahasa Inggris. Untuk mengakali hal tersebut, muncullah kata ‘Anda’. Supaya lebih praktis dan tak perlu menebak lawan bicara itu lebih muda atau lebih tua. Tidak perlu memikirkan mau menyebut kamu, mas atau bapak.

Tapi ada atau tidaknya kata ganti yang netral itu tergantung dari nilai-nilai yang ada di masyarakatnya. Dan kalau itu tidak ada, tentu ada maksudnya. Mungkin maksudnya, kita tidak bisa memperlakukan orang lebih tua sama dengan orang yang lebih muda. Harus lebih hormat. Jadi tidak boleh ada sebutan yang bersifat umum. Titik. Dan seharusnya itu kita hargai, kita banggakan sebagai cara khas kita dalam menghormati orang lain.

Lalu kenapa muncul kata ‘Anda’? Entah. Mungkin lahir dari seorang ahli bahasa yang ingin ada kepraktisan dalam cara orang menyebut orang lain. Atau oleh pemimpin yang dulu kuliah di Erora dan terbiasa enak dengan ‘You’. Menurut saya itu tidak cocok. Karena kita memang tidak membutuhkan.

Lalu bagaimana menyebut lawan bicara orang yang kita tak kenal?

Sebagai orang yang bangga dengan bahasanya, harusnya tetap bertahan dengan cara kita. Untuk menyebut sebuah benda, kita boleh menyadur kata asing. Tapi untuk menyebut orang, itu lain cerita. Ada nilai-nilai kesopanan yang mempengaruhi di dalamnya yang harus kita banggakan.

Di situs-situs diskusi bebas semacam Kaskus pun, orang menyadari bahwa kita orang Indonesia tidak mempunyai kata ganti orang kedua yang neteral. Dan mereka menghargai itu. Makanya mereka membuat istilah yang terkenal: Agan dan Aganwati. Bagus, kan. Di situs lain ada aturan untuk menyebut Tuan dan Nyonya. Cukup menggelikan, tapi itulah. Kita memang tak punya kata ganti orang kedua yang neteral.

 

Jadi? Memang tak perlu ‘Anda’.

Untuk komunikasi formal, atau ngobrol dengan orang tak dikenal, pilihan terbaik adalah menyebut dengan sebutan bapak atau ibu. Kalau yakin belum terlalu tua, sebut dengan mas, mbak atau kakak seperti CS Telkomsel. Tertukarnya bapak dengan mas tidak akan jadi masalah. Kalau yakin lawan bicara, teman chatting, target pembaca adalah rekan seangkatan atau umurnya malah dibawan, dan kita yakin mereka mau berakrab-akraban, maka kamu adalah pilihan yang tepat.

Anda itu bukan untuk orang Indonesia. Kita tidak perlu You. Orang-orang muda di Kaskus pun paham hal ini.

Leave a Reply