Cara menghadapi bos yang menyebalkan

Idealnya, bos atau atasan itu orang yang bisa memimpin. Dia mendorong orang untuk maju, bukan menjatuhkan. Dia memberi keteladanan, bukan cuma kasih aturan. Dia memberi motivasi, bukan cuma memaksakan. Tapi dalam dunia nyata, banyak bos yang cuma tau beres. Yang penting hari ini beres. Tak perduli anak buah tertekan, tak perduli anak buah terhina, tak perdui anak buah besok resign. Bos seperti ini membuat perusahaan susah maju. Karena sasarannya cuma jangka pendek. Beres hari ini, supaya dia sendiri aman di mata bos yang yang lebih tinggi. Tak perduli bahwa caranya untuk membuat beres hari ini menimbulkan masalah di jangka waktu lebih panjang.

Cara menghadapi bos yang menyebalkan

1. Jangan ambil hati

Don’t take it personal. Itu bahasa lainnya. Jangan ambil hati artinya jangan mempertalikan apa yang dikatakan bos dengan diri kamu. Kalau dia bilang di depan semua orang, ‘Salaaaah. kerjaan kamu salah semuanya’, jangan merasa terhina. Jangan merasa diri kamu tak bisa kerja, lalu melotot, melempar gelas ke muka bos dan langsung resign. Fokus saja bahwa itu masalah tentang sebuah pekerjaan, tentang hasil pekerjaan, bukan tentang diri kamu, apalagi tentang diri kamu secara keseluruhan. Santai saja menjawab, ‘oh, dimana salahnya, bos?’. ‘oh, ok, saya akan perbaiki’.

2. Lakukan perhitungan

Bukan balas dendam. Jangan salah paham. Tapi hitung dalam arti harfiah. Hitung berapa kali dia berperilaku tidak menyenangkan setiap hari. Catat di sebuah tempat yang tak dibaca bos kamu. Boleh juga di blog dengan nama samaran atau di group whatsapp teman-teman karib kamu. Caranya, jangan pertalikan dengan emosi kamu secara serius. Nanti kamu disangka teman sebagai pengeluh sejati. Contoh:

#bad No. 1: Dia bilang gue harus sekolah SMA lagi. Lha masa gue jadi primadona dua kali? Kasian yang muda-muda.

#bad No. 2: Dia marah karena grafik yang gue buat tampilannya juelek. Aduh, apa gue harus kuliah disain grafis ya? Broo ada yang tau cara bikinnya?

dan seterusnya.

Sore haru kamu buat rekap: Hari ini 11 kali. Rata-rata dalam seminggu terakhir 10 kali. Apa dia ngitung juga ya? Kok angkanya bulet?

Melakukan perhitungan ini dalam upaya memisahkan masalah bos kamu dengan diri kamu. Masih sejalan dengan panduan nomor satu: Jangan ambil hati.

3. Pahami penyebab tingkah laku bos

Ini upaya tingkat lanjut untuk tidak mengambil hati. Dengan mencoba memahami penyebab dari tingkah laku bos kamu, pikiran kamu akan tersita pada masalah bos kamu, bukan masalah diri kamu.

Mengapa bos bilang kamu tidak pernah bekerja dengan benar? Karena ada beberapa kesalahan kerjaan. Tapi mengapa menggenalisir semua tidak benar? Mungkin karena dia punya masalah keluarga. Mengapa masalah keluarga dibawa-bawa ke tempat kerja? Karena dia memang gagal dewasa. Oh ya sudah. Kasian.

Kadan penyebab dari tingkah laku seseorang itu malah membuat kita simpati. Misalnya karena dia tak bisa mengontrol emosi, atau karena dia juga mendapat tekanan berat dari bos yang lebih tinggi.

4. Jangan sampai pekerjaan kamu terpengaruh

Tetap jadikan masalah emosional dan perilaku bos kamu sebagai masalah dia, bukan masalah kamu. Bekerjalah seperti biasa. Rajin dan seharusnya.

5. Proaktif

Bagaimanapun bos kamu, bekerja secara proaktif adalah kunci sukses. Pahami apa yang diinginkan bos kamu sebelum dia datang ke meja kamu. Begitu dia datang, kamu sudah punya apa yang diinginkan. Pelajari dari masalah-masalah yang lalu. Ini bukan dalam upaya mengambil hati bos kamu, tapi dalam upaya kamu bekerja dengan baik, siapapun bos kamu.

6. Jadilah pemimpin

Bukan maksudnya ingin menggantikan bos kamu. Tapi ini dalam arti mengambil inisiatif kalau kamu melihat bos kamu begitu lemahnya sehingga tidak bisa mengambil keputusan penting untuk kebaikan perusahaan, atau malah mengambil kepusutan yang keliru. Jangan membuat bos kamu merasa disalip. Tetap libatkan dia untuk upaya perbaikan yang kamu inginkan.

Di banyak kasus, manakala bos formal tidak berfungsi efektif, biasanya muncul pemimpin informal. Ambillah tanggung jawab itu, sekali lagi bukan untuk menyalip bos kamu, tapi menambal kekurangan bos kamu.

7. Cari kerjaan baru kalau alasannya rasional

Jangan cari kerjaan baru karena kelakuan bos kamu. Dimanapun tempat kerjanya, bos seperti ini kemungkinan ada. Tetapi cari kerjaan baru kalau kelakukan bos kamu itu karena alasan yang lebih prinsipil:

Bos kamu sentimen karena kamu tidak mau melakukan sesuatu yang kamu anggap tidak baik dari segi moral atau etika bisnis, itu alasan yang rasional. Cari kerjaan baru, dapatkan sebelum kamu mengajukan resign secara formal.

Leave a Reply